oleh Ramdah M. Radjab[1]

Andai MTCC ini ada sembilan tahun lalu, pastilah akan saya tolak habis-habisan. Pasalnya, ‘rokok’ (mulai dari lintingan sendiri[2], rokok putih[3], kretek[4], hingga cerutu[5] dan oqah[6]) merupakan barang yang sangat identik dengan kesukaan yang hanya berpisah kalau saya mendirikan shalat dan tidur. Kegiatan merokok saya lakukan di semua tempat seperti di ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur, teras, dapur, dan bahkan di kamar mandi. Tak heran, koleksi saya paling banyak adalah yang sesuatu yang ada kaitannya dengan rokok, cangklong, asbak dan geretan (berbagai model zippo dan penggeret gas), dan korek api. Begitu pula di dalam bagasi mobil dan di loker dan meja kerja kantor. Pendeknya, rokok dan geretan selalu saya tenteng dalam genggaman, dimanapun saya berada.

Kala itu, saya seorang perokok berat dan bandel. Dikatakan berat, karena saya bisa menghabiskan antara 60 sd. 80 batang rokok putih atau 45 sd. 60 rokok kretek atau 10 sd. 15 batang cerutu dalam sehari semalam. Disebut bandel, karena selalu melanggar aturan apapun yang dibuat untuk menghentikan aktifitas merokok ini. Hingga ibu dan istri saya menjuluki saya ‘sepur’ (kereta api). Namun, teman-teman menamai saya, ‘knalpot yamaha’. Tak apalah, semuanya mengacu pada kebiasaan saya yang tidak pernah sepi dari asap rokok ini.

Sekedar selingan, di kawasan wisata Gili Terawangan, 1997, saya bertemu sepasang pasutri, wisatawan asal Italia, yang kebetulan dua-duanya berprofesi sebagai dokter spesialis jantung. Mereka membawa peralatan kesehatan secukupnya untuk check-up. Secara bergantian mereka memeriksa saya layaknya di klinik kesehatan. Yang menarik dari rekomendasi mereka berdua adalah “Selamat! Kamu sehat. Kamu akan berumur 100 tahun tapi kalau kamu berenti merokok, umurmu bisa menjadi 110 tahun.”

Rupanya rokok ini telah menguasai hampir seluruh sistem saraf saya, hingga selangkah lagi akan naik peringkatnya bak ‘dewa’ dalam mitos Yunani atau Romawi kuno. Mengapa demikian? Selain rokok ini dikenal bisa menggugah pertemanan, ia juga bisa membuat seseorang dengan mudah dan tanpa canggung untuk bersikap atau mengambil peran dalam bersosialisasi, bahkan di tempat yang masih baru sekalipun. Merokok juga dapat mendatangkan ‘rezeki ekstra’ berupa upah, hadiah atau gratfikasi dari kolega, klayan atau bahkan mitra. Sebagai PNS di lembaga yang paling banyak menyedot keuangan negara dan daerah, Dikpora, tidak jarang saya menerima ‘uang rokok’ yang betul-betul saya pakai untuk beli rokok.

Namun semua ini tidak bertahan lama. Kesenangan merokok hanya sesaat dalam siklus hidup yang saya jalani. Merokok dan perilaku buruk lainnya seperti kerja tak kenal waktu (workaholic), sering beraktifitas yang melibatkan pikiran dan konsentrasi tinggi, makan tidak teratur, doyan makanan dan minuman cepat saji dan berminyak, kurang berolah raga, banyak begadang dan lain-lain ikut memperburuk sistem saraf dan organ saya. Walhasil, di puncak fase kesenangan ini, sistem imunitas saya mulai diserang dari segala penjuru.

Awalnya, dalam keseluruhan aktifitas dan mobilitas yang begitu tinggi, beberapa penyakit ringan seperti flu, pilek, batuk dan sakit kepala mulai sering menyerang saya. Namun selalu dapat dipadamkan dengan obat-obat yang ada di apotek atas rekomendasi teman-teman dokter dan perawat. Meski demikian, saya akui kalau tidak pernah melakukan medical check-up karena memang, menurut saya waktu itu, tidak saya butuhkan. Bukankah penyakit yang saya derita cukup disembuhkan dengan obat-obatan yang tepat?

Bali, akhir Nopember 2004, saya jatuh sakit. Saya kena komplikasi flu, batuk, demam, typhus, sesak napas serta maag. Setelah dua hari saya minum obat yang sudah biasa saya konsumsi dan tak sembuh-sembuh, saya mengunjungi dan memeriksakan diri ke dokter praktek di salah satu tempat praktek dokter di bilangan Sesetan, Denpasar. Tiga hari berlalu dalam perawatan dokter tersebut, penyakit saya (katanya dari hasil tes darah di lab. saya menderita malaria dan maag akut serta typhus) tak sedikitpun ada keringanan. Saya merasa tak bisa bertahan dengan penderitaan seperti itu di rumah kontrakan seorang diri, sehingga memutuskan untuk pulang saja ke Lombok.

Setiba di rumah di Lombok, sore harinya saya diantar berobat ke salah seorang dokter spesialis penyakit dalam yang berpraktek di kota Praya. Dengan menunjukkan obat-obat yang direkomendasikan oleh dokter di Bali, dokter ini menyarankan agar saya opname saja dan obat-obatan tersebut harus dilanjutkan. Dalam keadaan yang semakin melemah, keluarga dan saya mengiyakan dan segera memesan kamar di RSUD Praya. Hari kelima saya dirawat disini, saya mengalami koma lalu dibacakan “Surat Yaasin” oleh keluarga. Anggota keluarga yang lain, kerabat dan teman-teman makin menyemut di rumkit. Di saat kritis itulah, saya sendiri berdo’a kepada Allah SWT, ‘kiranya kalau masih jatah umur saya, mohon disembuhkan; namun jikalau umur dan urusan saya sudah selesai, maka mohon agar umur saya diambil saat itu juga”. Seluruh keluarga, kerabat dan sahabat sudah pesimis kalau saya masih bisa bertahan hidup, kecuali dua orang wanita hebat, yakni ibu dan istri saya, yang selalu optimis bahwa saya masih kuat untuk bertahan. Hal itu selalu diucapkannya dalam setiap detak jantungnya. Plus, optimisme dan motivasi saya untuk tetap melanjutkan perjuangan hidup ini karena memiliki dua orang anak yang masih sangat membutuhkan kehadiran kedua orang tuanya.

kiranya kalau masih jatah umur saya, mohon disembuhkan; namun jikalau umur dan urusan saya sudah selesai, maka mohon agar umur saya diambil saat itu juga”

Tujuh hari tak jua ada perbaikan, malah semakin parah. Dokter yang merawat saya dikomplin oleh keluarga saya karena tidak kreatif, inovatif dan responsif. Seminggu dirawat kok tidak juga ada kejelasan penyakit yang saya derita. Masih tetap meresepkan obat malaria, maag dan sesak napas yang setiap hari digantinya. Sementara obat-obat ini tidak tersedia di apotek manapun di Kota Praya. Akhirnya, atas pertimbangan kualitas pelayanan dokter, paramedis dan ketersediaan obat, memasuki hari ke delapan, oleh keluarga – saya dimintakan rujukan ke salah seorang dokter spesialis yang lebih berpengalaman di Mataram.

Awal Desember 2004, setelah sepekan lebih, saya dirujuk ke tempat praktek seorang dokter spesialis penyakit dalam di Mataram. Oleh dokter ini, saya disarankan untuk opname di RSI Siti Hajar dan disini dia berkolaborasi dengan seorang dokter spesialis paru. Setelah melewati pemeriksaan intensif di lab. dan CTScan (fasilitas ini hanya tersedia) di RSUD Mataram, saya harus diberikan injeksi khusus dua kali sehari selama 10 hari. Sekali injeksi, konon kata istri saya yang selalu membeli obatnya (tiga botol sekaligus) seharga jutaan rupiah untuk sekali injeksi. Belum lagi untuk menebus obat-obat yang sudah tidak lagi termasuk dalam daftar obat yang disediakan untuk peserta ASKES, dan memang di rumah sakit ini, pelayanan terhadap peserta ASKES tidak berlaku.

Karena setiap kali diadakan pemeriksaan, saya selalu dibawa ke RSUD Mataram, lagi-lagi keluarga minta persetujuan dokter yang bertanggungjawab untuk pindah dirawat ke RSUD Mataram. Keterangan dari perawat yang disertakan di mobil ambulans, dokter yang merawat saya hanya mau menggunakan sebagian fasilitas seperti unit lab, radiologi dan CTScan yang ada di RSUD Mataram untuk hasil yang optimal dan lebih akurat. Untuk diketahui, selama di rumkit ini, saya nyaris tidak pernah bisa istirahat meski saya tidak bisa bangun bahkan untuk duduk. Namun, saya bisa menyimak setiap pembicaraan dan kejadian yang berlangsung di sekitar saya.  Karena itulah, keluarga saya meminta rujukan ke RSUD Mataram saja. Kali inipun, dokter mengijinkan.

Dari pemeriksaan intensif yang meliputi darah, sputum, air kemih dan tinja serta foto analisis rontgen dan CTScan di RSUD Mataram, dokter memvonis saya telah kena stroke. “Ini jenis stroke yang tidak biasa, karena mengenai pasien dengan tekanan darah rendah dan umur di bawah 40 tahun”, kata dokter yang merawat saya. “Pantesan waktu saya koma, tekanan darah saya menyentuh 70/100”, ini juga penjelasan dari catatan di kartu rekam medik yang ada. Ini dibuktikan dengan kakunya (seperti mati karena tidak bisa saya angkat sendiri) organ tubuh saya bagian kanan, dari kaki hingga tangan dan mulut serta lidah tidak bisa bicara. Bahkan untuk berbalik dalam posisi tidur dari telentang ke miring atau sebaliknya juga tak bisa. Tidak ada lagi hasrat untuk makan dan minum. Tak ada rasa lapar dan haus. Yang tersisa adalah harapan bahwa “saya harus bisa bertahan hidup”.

“Ini jenis stroke yang tidak biasa, karena mengenai pasien dengan tekanan darah rendah dan umur di bawah 40 tahun”, kata dokter yang merawat saya. “Pantesan waktu saya koma, tekanan darah saya menyentuh 70/100”, ini juga penjelasan dari catatan di kartu rekam medik yang ada.

Waktu terus berjalan, penyakit saya semakin hari semakin diperparah oleh analisis medis yang tak berkesudahan. Berkat motivasi intrinsik, kerja keras dan profesionalitas tenaga medis dan peralatan kesehatan yang memadai serta adanya pertolongan Allah SWT melalui do’a orang-orang terkasih dan ikhlas, pada pertengahan Januari 2005 saya agak baikan dan meminta kepada dokter agar menjalani perawatan jalan. Saya mendatangi klinik rawat jalan di RSUD setiap pekan selama kurang lebih sembilan bulan. Karena saya dalam kondisi persiapan melanjutkan studi ke Australia, pihak AUSAid di Jakarta secara intens meminta agar saya segera menyelesaikan dan melengkapi seluruh berkas pemberangkatan yang ada. Salah satunya adalah, dokumen medical report yang memuat ketentuan bahwa setiap penerima grant harus dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Untuk itu, pihak AUSAid (dokter resmi dari Australia) bekerjasama dengan para dokter dan paramedis dari RS Sanglah Denpasar yang tergabung dalam Joint Medical Team memberikan rekomendasi terhadap masing-masing pelamar yang akan berangkat dari IALF Denpasar.

Di akhir tahun 2005 saat dimana dokter mengumumkan satu lagi kondisi kesehatan saya, bahwa paru-paru yang sebelah kiri sudah terbakar. Inilah akibat paling serius dari kebiasaan saya merokok tersebut. Ternyata, asap rokok yang saya bela-bela dan banggakan untuk dihirup dan dihisap telah membakar sebelah paru-paru saya hingga tak berfungsi lagi. Hal ini pula yang mengakibatkan saya sangat rentan alergi terhadap perubahan cuaca/suhu, angin dari kipas angin, debu yang beterbangan, bau-bauan seperti bau parfum yang menyengat, bau apek pada kotoran sampah atau bahkan bau gorengan dari dapur, dan lain-lain.

Untuk keperluan mendapatkan medical report itulah, saya memutuskan untuk menghubungi RS Sanglah Denpasar. Disana saya harus opname tiga hari guna menjalani tes lab. dan foto rontgen yang dipadukan dengan hasil CTScan yang di Mataram. Setelah didiagnosis dan dianalisis secara komprehensif, hasilnya membuat saya terperangah karena Team Medis AUSAid mengeluarkan rekomendasi untuk “melanjutkan pengobatan di Australia” dan penyembuhan dementia[7] harus diupayakan. Meski demikian, saya senantiasa yakin akan kebesaran Allah SWT bahwa jangankan hanya masalah paru-paru, yang lebih dahsyat dari itupun sangat mudah bagiNya. Dan termasuk ketika Team Medis ini menyampaikan bahwa penyakit yang saya derita  tidak akan pernah bisa disembuhkan. Inilah tantangan yang sesungguhnya bagi saya. “Saya harus sembuh!”.

Gara-gara rekomendasi itu, proses keberangkatan saya ke Australia jadi cukup alot. Setidaknya, pemerintah Australia tidak bisa menerima kalau pendatang ke negerinya membawa penyakit. Untuk alasan ini, Kedubes Australia di Jakarta menunda mengeluarkan Visa studi saya hingga setahun berikutnya. Yah, selama setahun itu saya menjalani terapi penyembuhan di tempat-tempat yang kondusif untuk penyembuhan seperti di pantai atau taman yang tak berdebu. Selain itu, perilaku hidup sehat mulai saya jalani dengan tekun meski harus menghindari dan melawan keinginan untuk melakukan aktifitas berat seperti olah raga dan bermain game (resiko begadang).

Awal 2007, visa saya baru bisa dikeluarkan Kedubes Australia di Jakarta setelah Tim Medis berhasil meyakinkan pihak AUSAid bahwa penyakit yang saya derita tidak termasuk jenis ‘menular’ dan  penyembuhan akan diteruskan hingga di Australia. Dan untuk itu, saya harus menandatangani beberapa dokumen dan pernyataan dari Departemen Kesehatan Australia (DHA) dan Departemen Imigrasi, Multi Kultural dan Indigenus Australia (DIMIA). Dari pengetahuan sekilas yang saya himpun, Australia memang dikenal sangat baik dan kondusif untuk tempat penyembuhan berbagai penyakit yang ada hubungannya dengan pernapasan dan udara (oksigen). Karena lingkungan dan udaranya sangat bersih.

Akhirnya, pertengahan tahun 2007, untuk pertama kalinya, saya menginjakkan kaki di negeri Kangguru itu. Segera setelah settled (nyaman dengan akomodasi), tiga pekan sejak saya tiba, saya melaporkan keadaan saya di Poliklinik Kesehatan, Universitas Kambera tempat saya belajar. Disini dokternya sangat ramah dan sangat membantu. Mereka menerima saya dan bahkan menghubungkan saya dengan pihak Rumah Sakit yang saya pilih setelah mendapatkan masukan dari mereka. Yah, saya memilih Rumah Sakit Kalpari[8] sebagai rumah sakit rujukan.

Di rumkit inilah, seorang dokter sekali lagi mengulang kata-kata dokter dari Team Medis di Bali tentang ‘dementia’ itu. Katanya, “dementia, penyakit tidak dapat disembuhkan”. Mendengar semua ini, bagi saya adalah tantangan yang harus dihadapi dan dikalahkan. Tak ada yang tak mungkin dalam hidup ini.

Setelah selesai dari pengobatan dan terapi di berbagai tempat di Australia, saya bergegas pulang ke Lombok dan tidak mendapatkan apa-apa di rumah. Semua barang dan suvenir sudah dijual oleh istri saya untuk menebus obat-obat yang diresepkan dokter dan biaya-biaya lainnya yang perlu. Harta yang saya kumpulkan selama bertahun-tahun tidak ada gunanya di hadapan Allah azza wa jalla dengan hanya memberikan secuil cobaan dan ujian. Dan sejak saat itu pula, saya menjadi orang pertama yang alergi terhadap rokok dan produk bawaannya. Terlebih bila merokok di wilayah publik atau disekitarnya ada anak kecil yang dilibatkan.

Lessons:

  1. Bukti bahwa rokok itu haram adalah ketika para orang tua tidak akan pernah membiarkan anaknya yang masih kecil untuk merokok. Keharamannya seperti minuman keras atau daging babi. Bukankah demikian perumpamaannya?
  2. Ada banyak sekali Tips & Tricks untuk berhenti merokok, tapi percayalah, semua itu tak ada artinya tanpa dibarengi kemauan dan tekad yang kuat secara intrinsik untuk berhenti.

Bukankah tanpa rokok kita telah ikut menyehatkan dan menyamankan bumi dan segenap isinya?


[1] Ramdah M. Radjab, S.Pd., M.EDL adalah dosen FKIP di UM Mataram. Alumni the School of Economic and Education, University of Canberra, ACT, Australia, 2008. Ia adalah anggota Pengurus Daerah Muhammadiyah Kab. Lombok Tengah. Ia bisa dihubungi via ramuradjab@gmail.com

[2] Di pulau Lombok, masyarakat biasanya membawa kantong plastik berisi gumpalan tembakau (kuning atau hitam) dan kertas rokok kemanapun dia pergi.

[3] Tidak mengandung cengkeh

[4] Mengandung cengkeh

[5] Impor dari Havana dan Cuba

[6] Cara merokok bangsawan atau petinggi suku Arab yang sangat unik dengan menggunakan bejana berisi air yang dihubungkan dengan pipa sepanjang minimal satu setengah meter. Asap tebal yang dihirup dihasilkan dari tembakau yang dicampur dengan bahan khusus (multi taste & aroma) yang hanya dijual di Saudi Arabia. Tembakau ini bisanya dibakar di atas tungku di atas air dalam bejana tersebut. Biasanya, menghisap oqah ini dalam posisi lesehan.

[7] Sindroma atau penyakit yang menyebabkan hilangnya sebagian besar daya ingat (memori).

[8] Calvary Hospital: terletak di pusat kota Kambera, ACT., yang hanya berjarak ± 5 km dari Universitas Kambera. Sebuah rumkit yang dikelola pihak swasta dengan fasilitas yang sangat memadai dan pengelolaan yang sangat profesional.