Seramnya Gambar Rokok

Biro Iklan Pun Banting Stir Cari Produk Non Rokok

Jumat, 26 September 2014 09:16 WIB
Biro Iklan Pun Banting Stir Cari Produk Non Rokok

Sejumlah buruh melinting rokok sigaret kretek tangan (SKT) di PR Gagak Hitam, Pakuniran, Maesan, Bondowoso, Jawa Timur, Rabu (24/9/2014).

SURYA Online, SURABAYA – Selain  perusahaan event organizer, pembatasan promosi dan iklan itu juga dirasakan biro-biro reklame.

Haries Purwoko, Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Jatim menegaskan, regulasi itu sangat mempengaruhi omzet biro reklame.

“Ini (pembatasan) memang masalah besar bagi kami tetapi menjadi tantangan bagi kami untuk tetap survive. Prinsipnya, kami taat pada aturan yang berlaku. Tidak mungkin kami melawan aturan itu,” kata Haries.

Menurut Haries,  pembatasan ini berdampak besar bagi biro-biro iklan. Sebab 70 persen pengguna reklame selama ini adalah produk tembakau.

“Segala yang terjadi pada rokok, akan mempengaruhi sektror reklame secara keseluruhan,” tuturnya.

Meski begitu, tidak berarti dunia reklame akan mati. Biro reklame telah melakukan antisipasi.

Mereka pelan-pelan mengalihkan pasarnya ke perusahaan non rokok.

Pasar iklan rokok tetap berusaha dipertahankan dengan membuat inovasi-inovasi yang tidak melanggar ketentuan.

“Jadi, dunia reklame outdoor tetap bisa hidup meskipun rokok sebagai tulang punggungnya terus dibatasi aturan,” tegasnya.

Saat ini aturan pembatasan iklan rokok melalui reklame itu belum 100 persen berjalan di lapangan.

Menurut Haries  masih banyak reklame berkonten rokok yang tersebar di kota-kota besar seperti Surabaya, Malang, dan Jakarta.

Bahkan, reklame itu juga terletak di jalan-jalan utama, yang menurut perundangan sudah dilarang.

“Saya lihat ada yang pasang Maret dan berakhir 2013. Tetapi nyatanya sampai Januari 2014 perusahaan rokok itu tetap pasang lagi,” ujar Haries, Rabu (24/9/2014).

Ada sejumlah faktor yang membuat aturan iklan rokok di reklame itu belum bisa dijalankan di lapangan secara penuh.

Di antaranya karena aparatur pemerintah kota/kabupaten yang sengaja melakukan pengaturan bertahap. Sebab mereka juga tidak mau kehilangan sumber pendapatan.

“Pemasukan pemerintah kota/kabupaten dari sektor reklame sangat tinggi. Oleh karena itu, meski efeknya mulai terasa, namun belum begitu besar,” katanya.

“Pajak itu sebanding dengan omzet yang didapat perusahaan reklame. Nah, sektor rokok ini menyumbang 70 persen dari omzet biro reklame. Jadi kalau ada apa-apa dengan pemasukan itu, tentu akan menpengaruhui pajak dan retribusi yang disetorkan ke pemerintah,” ungkapnya. (idl/ben/day)

Sumber: http://surabaya.tribunnews.com/2014/09/26/biro-iklan-pun-banting-stir-cari-produk-non-rokok