Masa Jaya Emas Hijau Yang Telah Lewat

Pagi yang berkabut di lereng  Merapi di desa Sidorejo, Kemalang , Klaten  Pak Sandi Mulyono (54 th) mengawali hari dengan berkebun di depan rumahnya. Aktivitas berkebun yang telah ditinggal lama kini mulai dikerjakan lagi dengan harapan untuk perubahan nasib. Peruntungan hidup dari usaha sebagai  pengepul dan pedagang tembakau telah memberi pelajaran berarti bagi Pak Sandi ini bahwa kejayaan “emas hijau “ telah lewat. Kisah itu tinggal kisah mitos yang membuat terpuruk perekonomiannya dengan kerugain hampir 200 juta di tahun 2012 yang lalu. Pak Sandi memulai bisnis tembakau  sejak kira-kira tahun 1977. Dikalangan petani tembakau di Klaten, Pak Sandi termasuk kelompok pengepul tembakau yang besar, khususnya di lereng Merapi bagian atas. Banyak petani tembakau yang lebih suka menjual hasil panen tembakaunya ke pak Sandi karena sistem pembayarannya jelas dan terpercaya.  Pak Sandi memang mempunya prinsip yang kuat dimana dia akan selalu membeli secara kontan terhadap panen tembakau yang dijual kepadanya. Dari kepercayaan petani tembakau di daerah Klaten lereng Merapi bagian atas,  usaha tembakau ini berkembang dan meningkat pada pengrajang tembakau juga.

Kenanga Pakis Warisan Turun Temurun

Sambil menghirup kopi panas di pagi itu Pak Sandi kemudian bercerita banyak tentang lika liku perdagangan tembakau yang dia jalani. Secara umum petani tembakau Klaten kebanyakan menjual daun tembakau basah, bukan rajangan karena memang kualitas tembakau di daerah Klaten ini berbeda dengan kualitas di daerah lain, semisal Temanggung atau  Magelang. Tembakau favorit yang di tanam masyarakat Klaten adalah jenis Kenanga Pakis dan sedikit sekali yang menanam jenis Kemlaka dan jenis Virginia. Kenanga Pakis secara kualitas memang kalah dengan jenis lain, akan tetapi mempunyai keunggulan pada berat daun ketika panen.  Petani lebih memilih menanam ini karena dijual masih tembakau basah dan tidak dijual dalam rajangan. Hanya Pengepul atau pedagang besarlah yang berani  merajang tembakau karena akan di campur dengan tembakau lain di daerah yang lebih bagus kualitasnya. Hasil panen tembakau petani Sidorejo Klaten kebanyakan di jual oleh pak Sandi setelah dirajang dan diolah kemudian dikirim ke Gudang Tembakau di beberapa daerah di Temanggung dan Magelang. Pak Sandi sendiri sering mengirim ke sebuah gudang pabrik di daerah Magelang yang kemudian di kirim untuk kebutuhan rokok terkenal di daerah Kudus.

Rantai Perdagangan Tembakau Penuh Misteri dan Seperti Jaringan Mafia

Menurut Pak Sandi, produk tanaman tembakau adalah produk pertanian yang berbeda sistem penjualannya dari tanaman yang lain semisal padi, atau sayur mayur dimana petani dan pedagang dapat bernegosiasi harga dan harga pasar dapat diketahui oleh semua pihak. Hal ini berbeda sekali dengan hasil panen tanaman tembakau yang nilai jual di pasaran sangat misterius dan banyak pemain yang mirip jaringan mafia di dalamnya. Petani tembakau murni dijamin tidak akan bisa menjual hasil penenan langsung ke pabrik rokok lewat gudang-gudang perwakilannya. Ada mata rantai tata niaga yang sangat rumit dan tidak transparan yang harus dilalui antara lain sebagai berikut:

  1. Hasil Panen Tembakau petani akan dibeli oleh pengepul atau pedagang tembakau yang kebanyakan dengan sistem pembayaran dibelakang setelah hasil panen masuk gudang.
  2. Setiap keranjang tembakau akan dipotong sebesar 20% dari berat sebagai pengurangan beban keranjang sendiri dan kotoran yang ada. Hal ini sangat merugikan petani karena keranjang dan kotoran tidak akan sampi 20% beratnya.
  3. Untuk dapat terjual dan masuk gudang maka tembakau akan lewat seorang “grader “. Grader adalah orang yang bisa memutuskan kualitas dan harga tembakau dan grader ini adalah orang kepercayaan Pabrik rokok.  Banyak kasus hasil panenan dibeli bukan karena kualitas bagus tetapi karena kedekatan dengan Grader. Kalau kenal dekat dengan grader harga dapat lebih tinggi. Di Level inilah tidak ada standar  harga dan kualitas tembakau karena penentu hanya sepihak.
  4. Setelah ada pembayaran dari pabrik  lewat gudang maka kebanyakan pedagang baru membayar hasil panen tembakau kepada petani dan banyak kasus petani tembakau sering ditipu baik dengan cara dihargai murah atau justru tidak dibayar utuh. Kembali petani tembakau menjadi korban.

Mitos Yang  Membelenggu Petani Tembakau

Banyak petani tembakau daerah Klaten yang masih bertanam tembakau karena masih percaya pada mitos. Mitos yang ada seperti percaya pada tahun yang “ganjil” dimana menurut mitos tembakau akan mahal harganya. Pak Sandi menyatakan bertanam tembakau adalah bertanam “angan-angan” dan seperti “berjudi”. Banyak hal yang banyak mempengaruhi hasil panen tembakau  seperti cuaca atau iklim  dimana ketika cuaca tidak menentu dan sering hujan disaat panen maka petani akan menderita karena tanaman tembakau akan rusak dan tidak laku. Kepercayaan tahun ganjil genap tidak bisa dijadikan pegangan petani tembakau lagi sekarang. Salah satu mitos lagi adalah bahwa bertanam tembakau merugi lima kali akan terbayar dengan panenan yang bagus sekali saja. Ibarat lima tahun kemarau yang dibalas  hujan sekali.

Menjadi Petani Merdeka dengan Menanam Sayur

Diakhir obrolan kami pagi itu Pak Sandi mengakui bahwa selama bergelut dengan tanaman tembakau yang didapat bukan kesuksesan tapi keterpurukan dan olehkarenanya ditahun ini Pak Sandi sudah tidak menanam tembakau lagi. Semangatnya menjadi petani yang merdeka kembali bangkit saat Pak Sandi kembali bertanam sayuran. Mencoba berkebun dengan pola tumpangsari yang menggabungkan tanaman cabe, Kol, daun bawang, dan Seledri di sela-sela tanaman tomat dirasa sangat efektif dan menguntungkan. Semangat kebangkitan menjadi petani yang merdeka dan mandiri itu seakan  terwakili akan hijaunya daun koll dan merahnya cabe di lahan depan rumah pak Sandi yang siap untuk di panen.

Liputan Khusus  Petani Tembakau 11 April 2013

Tim : Fauzi AN, Jose Rizal