Lebih Dekat dengan Herry Zudianto:

Champion Figur Berhasil Berhenti Merokok

IMG_5280

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di awal tahun 2014 lalu, tim Duta Anti Rokok MTCC UMY berkesempatan untuk berbincang dengan mantan Walikota Yogyakarta Bapak Herry Zudianto, S.E.,Akt,. M.M. Bapak Herry Zudianto mejabat sebagai Walikota Yogyakarta selama dua periode yaitu tahun 2001- 2006 dan 2006- 2012. Selain dikenal dengan sebutan Kepala Pelayan Masyarakat Yogyakarta, Bapak Herry Zudianto juga dikenal sebagai pejabat yang anti korupsi hingga beliau pun meraih penghargaan Bung Hatta Anti Corruption Awards pada tahun 2010. Mantan Walikota yang membawa Kota Yogyakarta sebagai salah satu kota terbaik di Indonesia dengan tak kurang dari 500 penghargaan selama kepemimpinannya ini punya  jawaban dan cerita tersendiri mengenai budaya merokok dan kebijakan- kebijakan terkait.

Sebagai mantan perokok berat, Bapak Herry Zudianto pun turut memberikan inspirasi bagi masyarakat khususnya generasi muda untuk tidak merokok. Menurut beliau, setiap orang mempunyai hak untuk terbebas dari paparan asap rokok. Beliau mengingatkan kembali akan pentingnya saling menghormati dan toleransi sesama manusia sehingga seharusnya para perokok pun menghormati hak asasi orang di sekitarnya yang tidak menghendaki paparan asap rokok. Berangkat dari kesadaran akan pentingnya toleransi terhadap non perokok, Bapak Herry Zudianto juga telah berkontribusi langsung dalam usaha- usaha pengendalian tembakau melalui beberapa kebijakan selama masa kepemimpinannya. Sebagai output, beberapa kampung sudah diresmikan sebagai kampung bebas asap rokok. Selain itu beberapa puskesmas dan poliklinik juga telah menyediakan fasilitas konsultasi berhenti merokok. Meskipun pada saat itu beliau masih merokok, tidak ada alasan untuk tidak mendukung usulan mengenai Kawasan Tanpa Rokok. Selain itu, ide untuk membentuk klinik- klinik konsultasi berhenti merokok merupakan hal yang sangat baik.

Mengenai kuatnya iklan industri rokok, Bapak Herry Zudianto juga punya pandangan tersendiri. Menurut beliau, jika kita bicara mengenai media maka kita berbicara mengenai industri, dimana idealisme menjadi berkurang bahkan tidak ada. Meskipun sekarang sudah banyak artikel anti merokok, tetap saja pada kenyataannya iklan rokok masih merajalela dan luar biasa. Di koran pun iklan rokok bisa dua halaman penuh. Beliau menambahkan bahwa melawan industri rokok sama saja melawan industri yang ekonominya sangat kuat. Maka dari itu ada beberapa kebijakan terkait iklan rokok di Kota Yogyakarta selama kepemimpinan Bapak Herry. Biaya iklan rokok di baliho dilipatgandakan sehingga harapannya tidak ada lagi iklan rokok di baliho- baliho di Kota Yogyakarta. Dengan background ilmu ekonomi, beliau berpendapat bahwa menaikkan tarif iklan rokok juga akan terkait dengan hukum pasar yang akan berkurang dengan sendirinya.

Sudah hampir tiga tahun Bapak Herry Zudianto berhenti merokok. Sebelumnya beliau merupakan perokok berat yang mengenal kebiasaan merokok dari lingkungan sekitarnya ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Menurut beliau, pencitraan anak muda yang gagah dan keren lah yang paling kuat menjadikan rokok sebagai gaya hidup di lingkungan remaja. Dulu sekitar tahun 1990-an, Bapak Herry Zudianto sudah sempat berhenti merokok, tepatnya setelah menunaikan ibadah haji. Usaha untuk berhenti merokok itu pun berlanjut sekitar 2 tahun lamanya sampai sayangnya Bapak Herry mulai tergoda lagi oleh rokok. Banyak keluarga dan kerabat yang begitu mendukung beliau untuk berhenti merokok. Bagi beliau, berhenti merokok bukanlah hal yang mudah, apalagi kalau sudah seperti kecanduan. Sampai pada suatu ketika setelah sholat maghrib bersama istri, beliau menanyakan apa yang ada dalam doa sang istri setelah sholat. Ibu Herry pun dengan serius menjawab bahwa beliau berharap agar Bapak Herry bisa berhenti merokok. Dengan jawaban tersebut muncullah keinginan Bapak Herry untuk berhenti merokok dan usaha beliau pun berjalan sampai sekarang walaupun masih dalam ‘peperangan’ melawan rasa ingin merokok.

Di akhir wawancara dengan tokoh yang memperkenalkan budaya bersepeda ‘Sego Segawe’ ini, beliau menyarankan agar kampanye anti merokok harus lebih intensif dengan frekuensi yang sama dengan iklan rokok. Bukan hanya melalui sosialisasi di bidang medis tapi juga yang bersifat gaya hidup. Bagi Indonesia,industri rokok merupakan industri yang sangat besar. Tentu saja kekuatannya turut mengendalikan kekuatan ekonomi. Beliau mendukung agar komponen- komponen yang perlu disuarakan tetap bergaung untuk mengingatkan pemerintah secara bertahap. Jika meratifikasi FCTC nampak sulit bagi pemerintah, seharusnya pemerintah bisa mengalokasikan anggarannya untuk mendukung kampanye anti rokok untuk generasi muda, misalnya dengan mengalokasikan anggaran pendidikan untuk kepentingan sosialisasi ini.

Dengan keberhasilan beliau dalam berhenti merokok dan kontribusi beliau dalam usaha pengendalian tembakau di Kota Yogyakarta selama masa kepemimpinannya sebagai Walikota, Bapak Herry Zudianto terpilih sebagai tokoh inspiratif ‘Berhasil Berhenti Merokok’ MTCC tahun 2014. Ditanya tentang kata- kata inspiratif bagi masyarakat Yogyakarta, beliau menyampaikan satu kalimat yang sangat menarik. “Yok, rame- rame cari menantu yang nggak merokok!” Selamat atas terpilihnya Bapak Herry sebagai Champion Berhasil Berhenti Merokok, semoga terus menjadi inspirasi dan berkontribusi bagi masyarakat untuk berhenti merokok. (Rizkya)