MTCC Gelar Pelatihan Pengelolaan Iklan, Promosi dan Sponsorsip Rokok

Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) UMY kembali menggelar kegiatan dalam rangka pengendalian dampak tembakau. Kali ini, diadakan pelatihan pengelolaan terkait iklan, promosi, dan sponsorship rokok. Training yang dilaksanakan selama dua hari (27-28 September 2013) ini digelar di Ibis Style hotel. Peserta pelatihan terdiri dari unsur Non Government Organization (NGO), Pemerintah Daerah (PEMDA), MTCC Universitas Muhammadiyah Mataram-Purwokerto-Surabaya, DPPKAD di wilayah DIY, Dinas kesehatan, dan perwakilan media.

Pelatihan yang diadakan MTCC UMY ini sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif. Hal ini menjadi sangat penting mengingat pengaturan iklan, promosi, dan sponsorship rokok di Indonesia harus menjadi skala prioritas untuk mengurangi tingkat prevalensi perokok di kalangan kaum muda. Selain itu, Studi Ekonomi Tembakau versi Lembaga Demografi FE UI (2008) menyebutkan konsumsi rokok juga penyebab dari sampai 200.000 kematian setiap tahunnya. Iklan rokok justru sudah bermetamorfosa, atau berubah dengan dicitrakan sebagai suatu yang ”enjoy aja”,”kejantanan”,”kebaikan”,”kebenaran (karena dicitrakan ’bukan basa basi’), ”kebersamaan”, ”bakat dan ekspresi”, dan lain-lain. Seakan-akan merokok sebagai suatu yang biasa atau normal, dan mencitrakan merokok bukan lagi mengkonsumsi 4000 zat yang mengandung zat racun yang berbahaya, zat yang bersifat adiktif, bersifat karsinogenik.

Iklan rokok memiliki kekuatan mempengaruhi anak dan remaja selaku penerima pesan iklan rokok mengingat penetrasinya bersifat visual, bukan verbal. Aspek emosi lebih berperan dari pada aspek kognitif. Materi ataupun citra iklan rokok diniatkan menjangkau anak dan remaja. Dr. Widyastuti Soerodjo, membantah dalih industri rokok bahwa perusahaan rokok tak menyasar perokok remaja dan anak-anak. Kerena, menurut Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) itu, kiprah iklan dan sponsor itu semuanya untuk kaum muda, bukan untuk kakek-kakek. Belum lagi pemberian rokok gratis. Ironisnya, untuk pembodohan masyarakat seperti ini, pemerintah tutup mata. Apabila iklan rokok terus dijalankan dan tidak dihentikan maka secara kausalitas akan meningkatkan prevalensi anak-anak merokok, semakin rendahnya usia anak merokok, dan tidak dapat berhentinya anak-anak (dan remaja) dengan segenap implikasinya terhadap hidup, kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang anak-anak. Perkiraan tersebut diperoleh dari alasan dan fakta-fakta.

Adanya strategi besar untuk menjangkau anak-anak dan remaja sebagai sasaran bagi perokok baru merupakan hal yang harus diwaspadai bersama. Berdasarkan data dari dokumen internal industri rokok multinasional Philip Moris, mereka mempunyai strategi dan misi seperti terungkap dengan pernyataan berikut ini: ”remaja hari ini adalah calon pelanggan tetap hari esok …, pola perokok remaja penting bagi Philip Morris”. (Laporan ke Philip Morris, 1981) [Fact Sheet Depkes dan WHO, 04/2/2004].

Dokter Warih Andan P, Sp.KJ, salah satu pembicara dalam pelatihan ini mengungkapkan bahwa rokok yang mengandung nikotin dapat dikategorikan sebagai salah satu zat adiktif. Apabila hal ini tidak ditanggapi dengan serius, tentu saja industri rokok akan semakin menguasai pasaran, terutama anak muda, dan mengakibatkan dampak terhadap kesehatan yang lebih luas. Selain menerima pemaparan dampak rokok, peserta juga terlibat dalam diskusi interaktif. PAda akhir acara, dibentuk Aliansi TAPS Ban yang akan bekerja menentukan langkah-langkah penting untuk menyelamatkan masyarakat melalui pengelolaan iklan, promosi, dan sponsorship rokok.