Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) kembali mengadakan kegiatan dalam rangka pengendalian dampak tembakau. Langkah-lanhkah ini dilakukan mengingat semakin meluasnya pengaruh buruk yang disebabkan dari rokok. Rokok merupakan salah satu zat adiktif yang bila digunakan dapat mengakibatkan bahaya kesehatan bagi individu dan masyarakat, oleh karena dalam rokok terdapat kurang lebih 4.000 (empat ribu) zat kimia antara lain nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik, yang dapat mengakibatkan berbagai penyakit antara lain kanker, penyakit jantung, impotensi, penyakit darah tinggi, emfisema, bronchitis kronik dan gangguan kehamilan.

Pada kesempatan kali ini, MTCC mengundang jajaran Pemerintah Daerah (SKPD), media masa, Non Government Organisation (NGO), dan DPR di wilayah Kulon Progo dan Gunungkidul. Dalam upaya penanggulangan bahaya akibat merokok dan agar implementasinya lebih efektif, efisien dan terpadu, diperlukan suatu Peraturan Daerah tentang Kawasan Tanpa Rokok, dengan tujuan : a. melindungi kesehatan dari bahaya akibat merokok; b. membudayakan hidup sehat; c. menekan perokok pemula; dan d. melindungi perokok pasif. Oleh karena itu, semua komponen yang terkait dengan pelaksanaan KTR ini perlu untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Training Duta Anti Rokok MTCC UMY; wujudkan generasi sehat tanpa rokok

Kegiatan ini digelar selama dua hari (25-26 Oktober 2013) di Grand Artos Aerowisata Magelang. Adapun tujuuan dari acara ini adalah untuk memberikan gambaran dan pemahaman tentang praktek alih tanam tembakau yang sudah dilakukan oleh kelompok petani di Dusun Sukun, Magelang. Selain itu, peserta juga akan mendapatkan pemahaman dan keterampilan dalam menyusun Naskah Akademik, Draft Rancangan Peraturan Daerah, dan mengadopsi TAPS BAN ke dalam Kebijakan Daerah, serta mensinergikan penyusunan kebijakan KTR dengan ketentuan TAPS Ban ke dalam Peraturan Daerah.

Hari pertama kegiatan diisi dengan kegiatan field trip. Field study dilaksanakan di Desa Pakis, Kecamatan Pakis, Magelang, dari jam 09.00 – 13.00 WIB. Field study diawali dengan melihat praktek alih tanam petani tembakau ke tanaman sayuran, seperti: buncis perancis, lobak, terong, stevia, dan kol. Lahan petani seluas hampir 10ha ditanami sayuran, dan pengelolaan tanamnya sudah menyesuaikan kebutuhan ekspor. Hasil tanaman sayur petani Desa Pakis, telah diekspor ke Singapura, seperti: lobak, dan terong, disamping juga untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, semisal: Giant dan Carefour. Selanjutnya Field trip juga melihat pengemasan komoditas sayur untuk kebutuhan ekspor, di rumah pengepakan, yang merupakan sumbangan dari Pemerintah Daerah Jawa Tengah.

Selama field trip, banyak sekali fakta-fakta yang ditemukan; seperti sikap terbuka dari petani untuk melakukan alih tanam. Petani telah menjalin hubungan dengan eksportir, meskipun petani masih belum familiar dengan kriteria ekpor, terbukti dengan banyaknya limbah atau sisa panen yang tidak sesuai dengan kriteria ekspor. Oleh karena itu diperlukan pemberdayaan petani untuk menggunakan teknologi tepat guna, pengembangan ternak kelinci atau kambing untuk memanfaatkan limbah sayur, pendampingan masyarakat intensif, serta penguatan kemitraan.