Selain mengadakan seminar bertajuk “Bahaya Rokok dan Terapi Berhenti Merokok Yang Efektif”, Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) UMY berkerjasama dengan komunitas SEFTer Yogyakarta dan Klinik Pratama Firdaus UMY juga mengadakan Bakti Sosial dengan melakukan terapi kepada sejumlah perokok aktif pada Sabtu (20/5) bertempat di aula University Residence (Unires) Putra UMY.

Dijelaskan Dr. Oryzati Hilman, MSc. CMFM, PhD, DLP, Manajer Pendidikan Klinik Pratama 24 Jam Firdaus, acara ini diselenggarakan dalam rangka peluncuran Klinik Berhenti Merokok Di Klinik Pratama 24 Jam Firdaus dan Klinik UMY serta peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tanggal 31 Mei mendatang. Kegiatan ini dimaksudkan untuk melaksanakan upaya promotif dan preventif terhadap perokok di Kampus. Terdapat 15 orang perokok yang diterapi melalui terapi SEFT.

“Dalam rangka melaksanakan upaya promotif dan preventif, sekaligus mendukung UMY sebagai kampus bebas asap rokok, kami akan meluncurkan suatu program unggulan dengan nama “Program Berhenti merokok Komprehensif” yang terdiri atas 5 kegiatan, meliputi Edukasi bahaya rokok, Screening and prompt treatment untuk konsumi rokok pada setiap pasien, Pelayanan berhenti merokok kepada semua pasien perokok aktif, Intervensi berhenti merokok kepada perokok aktif secara berkelompok, serta Monitor dan follow-up pasien perokok aktif yang sedang berupaya berhenti merokok,” jelasnya.

Dr. Oryzati menyayangkan Indonesia yang masih belum peduli dengan masalah rokok, padahal sudah sangat memprihatinkan. “Sayangnya di Indonesia ini banyak sekali yang tidak peduli Masalah Rokok. Kita sudah dijajah industri rokok, bahkan beberapa diantaranya perusahaan multinasional dari luar yang memasarkan produknya di Indonesia. Dimana-mana orang merokok. Yang jadi korban adalah masyarakat ekonomi rendah, di kalangan remaja bahkan balita sudah merokok,”ujarnya.

Sementara itu, SEFT merupakan kepanjangan dari Spiritual Emotional Feedom Techniques. Metode ini adalah strategi yang mentargetkan baik pada sisi kognitif (pikiran negatif) maupun pada sistem somatik (craving atau keinginan yang kuat) memberikan harapan pada upaya berhenti merokok. Menurut Oryzati, terapi ini mirip dengan Akupuntur. “Metode SEFT ini juga bekerja dengan prinsip yang kurang lebih sama dengan akupunktur dan akupresur, yaitu merangsang titik-titik kunci pada sepanjang 12 jalur meridian tubuh. Perbedaannya dengan akupuntur, pada metode SEFT ini titik yang dipakai hanya 18 titik, tidak memakai jarum, dan menggunakan unsur spiritual, sehingga relatif lebih aman, mudah dan praktis,”jelasnya lagi.

Dalam perkembangannya, SEFT merupakan pengembangan dari EFT dapat juga mengatasi berbagai masalah emosional yang dialami perokok. Aspek Spiritual menjadi pembeda Antara SEFT dan EFT. “Aspek spiritual dalam SEFT adalah doa yang diucapkan oleh klien pada saat akan dimulai hingga sesi terapi berakhir. Doa dan unsur spiritualitas yang digunakan pada SEFT bersifat universal, sehingga SEFT bisa dipraktikkan untuk klien dengan keyakinan agama apa pun. metode SEFT ini juga bisa dijadikan sebagai salah satu metode alternatif untuk menghentikan kebiasaan merokok. Terapi berhenti merokok dengan metode SEFT berlangsung sekitar 15 sampai 30 menit tergantung landasan emosi yang menyertainya, maksimal dilakukan dalam 3 putaran,”paparnya. (bagas)

Sumber : http://www.umy.ac.id/mtcc-umy-adakan-terapi-seft-untuk-perokok.html