Sleman (27/11/2018) – Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) UMY menjadi narasumber dalam kegiatan “Sosialisasi Satuan Tugas (Satgas) Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Kabupaten Sleman. Pemerintah Daerah Kab. Sleman sendiri sudah memiliki regulasi terkait Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sejak tahun 2012 yaitu Perbup Sleman Nomor 42. Dalam menindaklanjuti regulasi tersebut Dinas Kesehatan Kab. Sleman mengadakan acara ini.

Resti Yulianti, M.Kep.,Ns.,Sp.Kep.MB perwakilan dari MTCC UMY yang menjadi narasumber dalam acara ini menyampaikan bahwa dengan diadakannya Sosialisasi Satuan Tugas (Satgas) Kawasan Tanpa Rokok (KTR) ini dengan sasaran para Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk menjadi Satuan Tugas (Satgas) KTR adalah tindak lanjut dari impelemntasi Perbup Nomor 42 tahun 2012 mengenai Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Semoga dengan adanya Satgas ini penerapan KTR dalam kawasan yang sudah dijelaskan dalam regulasi tersebut menjadi lebih baik lagi dan kesehatan masyarakat khususnya di Kab. Sleman lebih meningkat.

WHO yang merupakan badan kesehatan dunia memprediksi penyakit yang berkitan dengan rokok akan menjadi masalah kesehatan di dunia. Dari tiap 10 oang dewasa yang meninggal, 1 orang diantaranya meninggal karena disebabkan oleh asap rokok. Diperkirakan di tahun 2025 nanti, saat jumlah perkok di dunia sekitar 650 juta orang maka akan ada 10 juta kematian per tahunnya. Begitu besarnya dampak asap rokok bagi kelangsungan hidup manusia.

Menjadi perokok aktif tentu saja sangat berbahaya begitupun dengan perokok pasif, yaitu seseorang yang hanya terkena asap rokok tanpa aktif menghisap rokok. Realita sekarang banyak sekali orang yang merokok secara sembarangan tanpa memperhatikan sekitarnya atau orang-orang disekekelingnya. Tidak hanya perokok aktif yang menjadi perhatian dan permasalahan sekarang ini, perokok pasif juga merupakan salah satu permasalahan penting di Indonesia ini, terutama pada kelompok usia balita, anak sekolah dan para populasi perempuan.

Dalam kasus terkait tembakau menurut jenis kelamin pada tahu 2010 menunjukkan bahwa penyakit paru obstruktif kronik merupakan dan trachea, dengan total 237.167 laki-laki dan 146.881 wanita. Sedangkan jumlah kematian terbanyak disebabkan oleh penyakit stroke, bayi berat lahir rendah, serta kanker trachea, bronchus, dan paru. Jadi total jumlah kematian yang diakibatkan oleh tembakau pada tahun 2010 diperkirakan sebesar 190.260 kasus yang terdiri dari 100.680 laki-laki dsn 50.520 wanita, atau 12.7% dari total kematian pada tahun yang sama (1.539.288).

Berdasarkan berbagai masalah diatas tentunya sangat perlu mewujudkan kualitas udara yang sehat, bersih, bebas dari asap rokok demi menjaga kesehatan dan kelangsungan hidup manusia khususnya masyarakat di Kab.Sleman. Perlunya kerjasama yang baik antara Pemerintah Daerah Kab. Sleman bersama dengan seluruh lapisan masyarakat, imbuh Resti.