Kulon Progo. Menjadi sebuah semangat yang besar bagi pegiat pengendalian tembakau di Kulon Progo pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, hari ini Selasa 24 Maret 2015 Bapak Bupati Kulon Progo dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K) secara simbolik menurunkan sebuah reklame rokok di depan Stasiun Wates dan menggantinya dengan pesan kesehatan. Hal ini menandai penerapan perda KTR Kabupaten Kulon Progo yang akan tegas melarang iklan, promosi dan sponsorship dari perusahaan rokok di wilayah Kulon Progo.

Sebuah langkah luar biasa berani dan sangat bersejarah dalam upaya menekan jumlah calon perokok pemula di lakukan di Kabupaten Kulon Progo. Penurunan media iklan rokok luar ruang yang ada di kabupaten Kulonprogo pada hari ini perlu diapresisasi oleh semua pihak. Langkah berani  ini perlu di contoh oleh daerah lain khususnya pemda di Provinsi DIY.Gerakan penurunan semua iklan rokok di kabupaten kulon progo ini memang dalam rangka pelaksanaan PP 109 tahun 2012 dan pelaksanaan Peraturan Daerah no 5 tahun 2014 terkait dengan Kawasan Tanpa Rokok.  Dalam  kedua regulasi tersebut memang diatur terkait larangan semua iklan rokok yang terpasang  di semua jalan besar kota dan Kabupaten. Memang secara sekilas nampaknya ada resiko pemda kehilangan dana dari pajak iklan rokok yg terpasang di kabupaten akan tetapi sesungguhnya ini adalah langkah yang luar biasa untuk menyelamatkan generasi muda dari paparan iklan rokok yang sangat masif.

Perlu diketahui bahwa selama ini iklan rokok sangat masif terpasang dan terpampang disemua tempat yg sangat stategis baik di kota maupun didesa yang pada hahikatnya adalah sebuah usaha pemasaran bagi industri rokok untuk membuat bahwa produk rokok ini adalah hal yang biasa dan setara dengan produk iklan lain sehingga menanamkan didalam pemahamam umum bahwa rokok adalah hal yg biasa. Ini sangat berbahaya bagi generasi muda yang menjadi target incaran calon konsumen bagi industri rokok dimana iklan yang begitu bombastis ini menampilkan sesuatu yang sangat menarik bagi generasi muda. Iklan rokok cenderung memperlihatkan sesuatu yg menjadi ikon heroik bagi generasi muda, potret keberanian dan kesuksesan serta mencerminkan sesuatu yang macho identik dengan kejantanan dan petualangan. Iklan-ikan ini tentu sangat profokatif dan merusak mindset generasi muda yang akan melihat rokok sebagi sesuatu yang wajar dan normal dan merekoa termotivasi untuk mencoba dan inilah awal ketergantungan mereka pada barang candu nikotin.

Perang melawan iklan rokok adalah Perang melawan candu nikotin. Hasil riset dari Muhammadiyah Tobacco Control Center ( MTCC) UMY tahun 2012 lewat Research grant didapatkan sebuah hasil yang signifikan terkait korelasi perokok pemula anak smp terhadap maraknya baliho rokok yang terpasang di jalan besar di DIY. Dalam riset itu ditemukan data yang mencengangkan bahwa perilaku terkait perokok pemula bagi pelajar SMP di DIY juga dipengaruhi oleh gencarnya iklan baliho Rokok di media luar ruang. Dalam Penelitian yang mengambil sampel Sekolah di daerah jalan utama yang sering terpasang iklan rokok ini membuktikan bahwa iklan yang ada sekarang memang sasaran targetnya adalah generasi muda.  Hal inilah yang selama ini sering terabaikan oleh banyak pihak terutama Pemerintah Daerah yang kurang memahami masalah ini sehingga hanya berorientasi pada pemasukan pendapatan daerah tanpa memikirkan resiko dan dampak yang akan diterima oleh generasi mudanya yang terpapar iklan dan kemudian menjadi perokok pemula dan pada nantinya akan menjadi pelanggan rokok yang sangat loyal.

Melalui gerakan penurunan media luar ruang Iklan rokok di Kulon Progo ini MTCC-UMY menghimbau kepada Pemda lain untuk segera mengikuti langkah yang dilakukan oleh  Kulonprogo sehingga Provinsi DIY akan terbebas dari iklan rokok. Jangan sampai nantinya hanya kulon progo saja yang terbebas dari iklan rokok tapi begitu masuk kabupaten lain di DIY Iklan rokok justru semakin gencar dilakukan . Political will dari Pimpinan Pemerintah Daerah merupakan hal mendasar dan sangat di perlukan dalam hal ini. Kecerdasan dan pemahaman yang komprehensif terkait bahaya iklan rokok tentunya harus dimiliki oleh semua Pimpinan Daerah sehingga sebutan  Yogyakarta sebagai kota pelajar akan terjaga dan bukan sebagai kota yang di penuhi iklan rokok. Menjadikan Yogyakarta bebas Iklan rokok merupakan upaya menjadikan Yogyakarta menjadi daerah yang benar-benar mempunya nilai subtansi  Istimewa bagi warganya maupun pendatang. (Fauzi- Rizkya)