JOGJA – Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, perokok pemula remaja jumlahnya meningkat dua kali lipat dalam 10 tahun. Sedangkan perokok pemula usia 15-19 tahun mengalami penurunan. Hal itu menunjukkan adanya pergeseran usia perokok pemula ke usia yang lebih muda. Angka perokok di seluruh dunia pun mengalami peningkatan. Indonesia menempati posisi ketiga dengan jumlah perokok terbesar setelah Tiongkok dan India.

Kendati angka-angka dan fakta tersebut merupakan data-data beberapa tahun lalu, namun masih sangat relevan. Betapa mengkhawatirkannya. Karena itu MTCC (Muhammadiyah Tobacco Control Center) UMY, WITT (Wanita Indonesia Tanpa Tembakau), YGTC (Youth Generation of Tobacco Control), dan 9CM (9lobal Cigarette Movement) Jogjakarta, menggelar talk show bertajuk Generasi Muda Keren Tanpa Rokok, di kampus UMY, Jogjakarta, Kamis (31/5).

Dalam acara yang digelar dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia setiap 31 Mei itu terungkap Peta Jalan Pengendalian Dampak Konsumsi Rokok Bagi Kesehatan Kementerian Kesehatan pada 2013 menyebutkan, perokok pemula remaja usia 10-14 tahun jumlahnya meningkat dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir dari 9,5 persen pada 2001 menjadi 17,5 persen pada 2010.

Menghadirkan peserta dari kalangan pelajar SMP, SMA, mahasiswa, dosen, guru, dan tamu kedinasan, serta pembicara dr April Prabowo DTM&H MFM (MTCC) UMY, SR Yunastuti Daud SE MA (WITT), Siti Alfiah SPsi SH (Kepala BNNK Jogjakarta), serta Sofi pelajar klas VIII atau klas 2 SMP (YGTC), talk show tersebut juga mengungkapkan, perokok pemula usia 15-19 tahun menurun 15,5 persen dari 58,9 persen menjadi 43,3 persen. Hal itu menunjukkan adanya pergeseran usia perokok pemula ke usia yang lebih muda.

Sofi yang giat dalam YGTC yang anggotanya merupakan gabungan dari beberapa sekolah itu menyampaikan kesaksian, banyak teman-temannya yang tanpa rasa bersalah mulai merokok. Pria maupun perempuan. “Ketika saya tanya ke mereka, apakah orangtua tidak melarang, mereka menjawab tidak apa-apa. Dari jawaban teman-teman itu saya berkesimpulan faktor orangtua dan teman sangat berpengaruh,” katanya.

Pelajar perempuan itu juga mengemukakan, dirinya justru dibenci dan dijauhi teman-temannya ketika mengunggah dalam instagram tentang bahaya merokok dan perlunya menjauhi kebiasaan merokok. “Saya sempat tidak habis pikir mengapa mereka, teman-teman saya yang perokok itu, membenci saya. Mereka selalu mengatakan, jangan urusi kami,” tutur Sofi polos.

Siti Alfiah menimpali, rokok merupakan jembatan menuju narkoba. Termasuk penggunaan tembakau gorilla, yang saat ini telah ditetapkan sebagai narkoba jenis baru. “Saya sempat miris. Suatu saat bertemu dengan anak klas V SD yang mengaku sudah pernah merokok tembakau gorilla dan orantuanya sangat abai. Memprihatinkan. Lebih memprihatinkan ketika saya tanya dan anak itu menjawab mengetahui tentang tembakau gorilla dari internet,” ujar Kepala Badan Narkotika Nasional Kota Jogjakarta itu.

Sedangkan Yunastuti mengemukakan, WITT sengaja fokus pada keluarga dan perempuan karena pendidikan sejatinya bermula dari rumah dan sebagian besar dilakukan oleh para perempuan. “Dari kesaksian Sofi pun seakan menegaskan betapa pentingnya pendidikan di dalam keluarga dan pengaruh perempuan. Bukan berarti selain keluarga dan perempuan tidak penting. Tapi organisasi kami memang sengaja fokus ke sana,” katanya kemudian.

Sedagkan dr April banyak mengemukakan tentang latarbelakang perokok. Menurutnya ada perokok sebagai peran sosial, agar kelihatan keren, macho, dan lain-lain. Ada pula perokok untuk peran emosional, bagi orang yang ingin lari dari kesusahan, stres, dan lain-lain. Serta ada perokok sebagai peran temporal, lebih untuk mengisi waktu luang. “Menurut pengalaman, peran temporal itu yang paling mudah disembuhkan,” tandasnya. Repost (rul-Jurnal Jogja) http://jurnaljogja.com/perokok-bergeser-ke-usia-lebih-muda/