images

TEMPO.CO, Pittsburgh – Salah jika menganggap ganja sebagai zat adiktif paling mematikan. Sekelompok ilmuwan gabungan asal Jerman dan Kanada setidaknya mencatat 10 zat yang lebih mematikan daripada ganja, termasuk beberapa zat yang legal, seperti alkohol dan nikotin, yang biasa terkandung dalam sebatang rokok.

Bahkan, dalam studi yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Report tertulis, “Mengkonsumsi alkohol dalam jumlah berlebih 100 kali lebih berbahaya ketimbang menggunakan ganja.”

Di Amerika Serikat, ganja dimasukkan dalam “daftar merah” peringkat pertama. Artinya, penggunaan ganja untuk medis sekalipun dilarang secara hukum. Ini kebalikan dari Belanda yang memperjualbelikan ganja secara legal.

Menurut studi ini, risiko ganja masih jauh lebih rendah ketimbang nikotin dan alkohol. Akan tetapi, bukan berarti tidak ada aturan yang ketat untuk penggunaan ganja.

Dalam studi tersebut para peneliti menghitung risiko kesehatan masing-masing obat dengan melihat ukuran yang disebut “margin paparan” (MOE) yang menjadi rasio untuk perbandingan jumlah obat yang dibutuhkan untuk membunuh seseorang. Cara menghitungnya sederhana: bila rasio MOE rendah, obat tersebut mematikan.

Saat diuji, tetrahydrocannabinol (THC), bahan aktif dalam ganja, memiliki MOE lebih dari 100. Ini berarti tidak sesuai kriteria “membunuh” MOE. Sebaliknya, rasio MOE dari alkhol, heroin, kokain, dan nikotin berada di angka 10. Sebuah angka rasio yang cukup untuk mencabut nyawa seseorang.

Sedangkan zat lain, seperti MDMA, methamphetamine, metadon (narkotik yang sering digunakan pengobatan medis selain heroin), amfetamin (stimulan untuk obat narkolepsi dan hiperaktif), dan diazepam, agak kurang beresiko. Sebab, rasio MOE dari obat-obatan tersebut berada di antara 10 sampai 100.

Meski begitu, rasio MOE ini masih diperbedatkan di kalangan ilmuwan. Alasannya, rasio MOE didasarkan pada data hewan. Karena itu, tidak etis jika menyandingkannya dengan manusia.

“Ganja memang bukan satu-satunya zak adiktif berbahaya,” kata Jonathan Caulkins, pakar kebijakan publik dari Carnegie Mellon Universuty di Pittsburgh, yang tak terlibat dalam penelitian tersebut, seperti dikutip dari Livescience.

Caulkins mengatakan banyak studi tentang kematian akibat narkoba non-ganja yang mendukung penelitian ilmuwan Jerman-Kanada ini. Dia kaget begitu mendengar heroin kurang berbahaya ketimbang alkohol. “Tapi tetap saya percaya bahwa ganja memang berisiko rendah.”

Penelitian tersebut, menurut Caulkins, dapat dijadikan salah satu acuan pemerintah terkait pembuatan kebijakan tentang ganja. Dia beranggapan perlu ada studi lanjutan mengenai dampak ganja yang mempengaruhi proses berkendara dan terkait masalah jantung. Meski nilai MOE menarik, kata dia, penelitian mendalam tentang segi ini juga harus dilakukan.

Jadi… jika pengedar narkoba dieksekusi mati di Indonesia, bagaimana dengan peredaran rokok yang jauhhhh lebih masif?

 

sumber: http://www.tempo.co/read/news/2015/03/05/095647413/Studi-Rokok-dan-Alkohol-Lebih-Bahaya-dari-Ganja