“DESAKU SEHAT BEBAS ASAP ROKOK”

Author : Fauzi AN., Editor : Tia Ifada

1

Sinar mentari  yang cerah di lereng Pegunungan Seribu Selatan Yogyakarta  tepatnya di  Desa Wonolelo Pleret Bantul memberikan suasana semangat yang luar biasa kepada warga masyarakat dusun ini untuk memulai aktivitas kerja. Hamparan hijau persawahan di lereng  bukit seribu sebelah utara ini semakin  membuat atmosfir  pedesaan yang indah dan sejuk akan kita dapat. Dusun Purworejo namanya,  dusun kecil yang luar biasa ini  berpenduduk sekitar 684 jiwa yang terbagi dalam 232 KK dan hampir 56% warganya petani.  Sesuatu yang lain akan kita temui di dusun ini bila kita bertamu ke rumah penduduk. Sebuah tempelan stiker tentang bahaya asap rokok serta sebuah asbak di bawahnya terpasang di hampir semua rumah warga. Jangan berharap bagi tamu yang perokok akan disediakan asbak di dalam rumah.

Dusun Juara Bebas Asap Rokok

Diawali dengan sebuah tekad dan semangat dari seorang kepala Dusun mulailah cerita tentang perjuangan menuju desa bebas rokok ini di mulai. Ponijan  54 tahun yang sudah menjabat kepala dusun selama lebih dari sepuluh tahun ini mulai menginisiasi desa bebas rokok tahun 2010. Pertemuan dengan para ketua RT , Ibu-Ibu PKK, pemuda serta Petani Tembakau di selenggarakan berkali-kali. Awalnya memang ada rasa pesimis mengingat hampir semua lelaki warga di kampung Purowrejo ini adalah perokok dan kegiatan  merokok merupakan sebuah hal yang biasa dan lumrah dalam lingkungan masyarakat pedesaan. Kerja keras dan tekad yang kuat di bantu oleh tokoh masyarakat yang sudah mulai sadar akhirnya membuahkan hasil.

Pada tanggal 5 Oktober 2012 deklarasi Bersama warga dusun Purworejo menuju kawasan Bebas Asap Rokok Di deklarasikan. Beberapa tempat harus bebas asap rokok seperti:

1.      Di tempat ibadah seperti  masjid dan mushola,

2.    Tempat pendidikan seperti Sekolah dan PAUD dan tempat kerja,

3.    Di dalam rumah tempat tinggal semua warga

4.    Forum Pertemuan warga seperti rapat, jagongan, maupun pengajian.

Kesepakatan ini wajib ditaati oleh warga dengan semangat menghormati dan menghargai baik yang merokok maupun yang tidak merokok. Kesepakatan ini disebarluaskan kepada semua warga lewat 6 ketua RT yang ada di dusun ini.  Gerakan kampanye bebas asap rokok kemudian gencar dilakukan oleh Forum Kawasan Dusun Bebas Asap Rokok  yang terdiri dari elemen warga seperti Ibu-ibu PKK, kelompok Tani, Pemuda dan tokoh-tokoh masyarakat.  Pendataan pun dilakukan untuk mengetahui jumlah perokok yang ada dan perkembangannya setelah deklarasi bebas rokok. Sebuah hasil yang sangat signifikan didapat dimana pada tahun 2012 terdapat 125 perokok aktif akhirnya bisa ditekan  menjadi 37 perokok di tahun 2013. Sebuah usaha yang luar biasa selama setahun. Sebuah forum kajian Penilaian Lomba Desa Bebas Rokok Dinas Kesehatan kabupaten Bantul juga memerikan nilai tertinggi untuk partisipasi dan kesadaran masyarakat dusun Purworejo ini dalam mendukung desa bebas Asap Rokok.

Kepemimpinan, Kearifan Lokal dan Konsistensi

Satu hal yang menjadi pembelajaran dari dusun Purowrejo disaat menuju desa Juara Bebas Asap Rokok adalah masalah leadership atau Kepemimpinan. Peranan dari Bapak Ponijan selaku Kepala Dusun yang sangat gigih dan tak kenal lelah selalu mengajak warganya berhenti merokok sangat menentukan sekali. “ sebenarnya masyarakat akan sangat mudah diajak asal kita bisa benar dalam menyampaikan maksud dan tujuan. Jangan diawali menyalahkan bagi yang merokok tapi bagaimana ikut memotivasi mereka untuk bisa saling menghormati dan menghargai bagi yang tidak merokok. Menakut-nakuti perokok sangat tidak efektif dan akan tidak mendapat dukungan warga khususnya yang merokok..dibutuhkan bahasa yang pas dan di terima semua pihak “ ungkap Pak Ponijan ketika ditanya bagaimana cara  mempengaruhi warga. Kearifan lokal sangat di perlukan untuk membuka kesadaran warga.

Perlu di ketahui bahwa ada 80 Petani tembakau dengan luas 25 ha tinggal di Dusun Purworejo ini dan sangat menggantungkan hidup pada pertanian tembakau jenis paiton. Keterlibatan Petani tembakau untuk di jadikan tokoh pengerak Forum  desa bebas asap rokok ternyata sangat luar biasa efeknya. Dari 80 petani tembakau yang ada sekarang tinggal 20 petani yang masih merokok.

Selian itu masalah konsistensi sangatlah penting dalam proses memangaun desa bebas asap rokok. Satu hal yang menarik yang disampaikan tokoh penggerak kesehaatan Puskesmas Pleret Bpk. Untung Sarwandono,  AMKL yang sudah mendampingi desa ini sejak tahun 2010 : “ Kami harus totalitas dalam pendampingan warga, jangan pernah sampai mengingkari kesepakatan dengan warga walalupun harus menghadiri pertemuan di luar jam kerja dan sampai larut malam, konsisten dan terus menerus serta fokus akan membuahkan hasil dalam merubah peradaban masyarakat “ papar kepala Promkes Puskesmas Pleret ini. Sampai saat ini Beliau sudah mendampingi hampir 15 Dusun di Kecamatan Pleret untuk Bebas Asap rokok. Perjuangan Pak Untung Sebagai ujung Tombak Pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan perlu di Apresiasi dan di sebarluaskan untuk menginspirasi petugas-petugas kesehatan yang lain.

 3