Ketua Petani Tembakau Penggerak Desa Bebas Asap Rokok

Salah satu hal yang sangat menarik terkait dengan desa Bebas Asap rokok di Dusun Purworejo ini adalah peranan dari Bapak Ponidi selaku Ketua Forum Masyarakat Bebas Asap Rokok di Dusun Purworejo desa Wonolelo Pleret bantul. Perlu di garis bawahi bahwa Pak Ponidi yang sudah berumur 54 tahun dan berhenti merokok sejak 2011 ini adalah Ketua kelompok Petani tembakau di Dusun Wonolelo. Pak Ponidi membawahi 80 Petani Tembakau yang ada di Dusun Purworejo ini. Pak Ponidi yang juga pengurus Asosiasi Petani tembakau (APTI) Kabupaten Bantul ini termasuk salah satu tokoh petani tembakau yang disegani khususnya di Kecamatan Pleret Bantul.

“Saya orang yang pertama menolak diajak demo oleh APTI Kabupaten Bantul untuk menolak PP 109 beberapa waktu lalu.”
Ponidi Ketua Petani Tembakau Wonolelo Pleret Bantul

Tembakau Sukses Bebas Asap Rokok Harus!

Tentu kita akan bertanya prinsip yang dianut Pak Ponidi Selaku ketua Petani tembakau ini. Saat beliau di tunjuk selaku koordinator Forum Desa Bebas Rokok di dusun Purworejo beliau selalu berkampanye bahwa sebagai petani tembakau kita harus sukses dan berhasil jangan jadi petani yang mudah di permainkan oleh Industri rokok ketika kita menanam tembakau. Selain itu petani boleh menanam tembakau tapi jangan sampai menjadi pecandu berat hasil olahan produk tembakau ini. Sebuah peraturan di buat juga di dusun ini bahwa anak kecil di bawah 15 tahun dan Ibu-hamil tidak boleh bersentuhan dengan tembakau baik sejak mulai tanam sampai masa Panen. Selain itu dalam forum pertemuan Kelompok Petani tembakau juga dilarang merokok di dalam ruangan sehingga dari 80 petani sekarang tinggal 20 petani yang masih merokok.

Menjadi Petani Tembakau Tangguh dan Cerdas

Banyak cerita yang mengenaskan dari Petani tembakau khususnya di Jawa Tengah yang sering kita dengar. Kondisi terjerat hutang renternir, tata niaga yang merugikan serta permainan harga dari Industri rokok yang tidak menentu di tambah cuaca yang jelek menjadikan petani tembakau sangat menderita. Selain hal tersebut petani tembakau juga dijadikan bumper dalam menghadapi adanya regulasi pengendalian tembakau.
Bermitra Kerja dengan salah satu Perusahaan Pertanian dan Penyalur tembakau di Yogyakarta pola tanam tembakau yang di kembangkan pak Ponidi di Pleret Bantul sangat menarik. Sejak awal di kontrak Perusahaan mitra Petani ini akan memberi bibit dan obat-obatan serta akan membeli hasil tembakau dengan harga yang sesuai kualitas panen. Harga terendah yang disepakati saat ini adalah 30.000 per kilogram tembakau rajangan. Ini harga terendah untuk kualitas normal. Saat ini rata –rata petani di dusun ini mempunyai lahan sekitar 2000 m2 ( 2ha) . Untuk hasil Panen tahun 2012 rata – rata petani mendapat keuntungan bersih 30 juta rupiah per Ha. Minimal 60 juta keuntungan yang didapat petani tembakau ketika cuaca mendukung untuk hasil maksimal daun tembakau yang di tanam dilahan 2000 m2. Tembakau yang di tanam di dusun ini adalah jenis paiton yang merupakan tembakau berkadar rendah nikotinnya dan menurut Pak Ponidi hasil petani tembakau Purworejo ini di kirim ke Surabaya dan beberapa daerah untuk masuk Industri Rokok dan beberapa di ekspor keluar negeri.


Regulasi Pengendalian Produk Tembakau Menurut Pak Ponidi

Ketika berdiskusi terkait adanya regulasi pengendalian produk tembakau baik itu UU no 36 tahun 2009 maupun PP 109 Tahun 2012 , Pak Ponidi punya pandangan lain yang sangat bertolak belakang dengan Petani tembakau pada umumnya. Belia memberikan beberapa pendapat terkait hal tersebut sebagai berikut: “ Saya orang yang pertama menolak diajak demo oleh APTI Kabupaten Bantul untuk menolak PP 109 beberapa waktu lalu. Alasan utamanya lha wong kita tidak dilarang menanam tembakau kok pada ribut, tidak ada larangan orang merokok kok pada ribut, selama ini kami menanam tembakau baik-baik saja setiap panen selalu di beli mitra kerja kami dan diekspor dan kami selalu untung”.
Selain punya prinsip yang tegas ketika bertransaksi hasil tembakau dengan Mitra Kerja Pak Ponidi berkeyakinan bahwa selama hasil tembakau di daerahnya masih bisa di tanam dan ada pihak yang siap menampung beliau akan terus mengajak warganya bertanam tembakau karena memang pemerintah tidak melarang. Satu hal yang masih diperjuangkan pak Ponidi dalam tahun ini adalah membangun gudang tembakau di kecamatan Pleret sebagai gudang tampungan tembakau petani ketika panen. Kedepan tembakau hasil panen tidak boleh di olah atau di rajang di rumah tapi langsung masuk gudang sehingga tidak menimbulkan masalah kesehatan pada keluarga petani tembakau terutama yng masih punya anak kecil dan wanita hamil.