IMG_20151110_141809Smoke Free Agents (SFA) adalah sebuah komunitas pengendali tembakau dengan berbagai organisasi dan perorangan yang mempunyai tujuan , visi dan misi yang sama yaitu menciptakan Indonesia sehat tanpa asap rokok. Adapun anggota dari SFA diantaranya; Muhammadiya Tobacco Control Center (MTCC UMY), Duta Cilik Anti Rokok, Gerakan Perlindungan Perokok Pasif (GP3), Jaringan Perempuan Peduli Pengendalian Tembakau ( JP3T), dan masih banyak komunitas lainnya.

SFA dibentuk dengan tujuan untuk menyadarkan masyarakat khususnya anak-anak muda di Indonesia agar mengetahui dampak dan bahaya rokok. Selain itu juga mengetahui bagaimana industri rokok memanfaatkan anak-anak muda Indonesia untuk menjadi perokok pemula dan perokok tetap.

Muhammadiyah Tobacco Control Center menghadiri workshop yang diselenggarakan oleh SFA dengan pembahasan mengenai  Pengendalian Tembakau di Indonesia dengan pembicara DR. Rohani Budi P.M.SI (peneliti P3D, setjen DPR RI) dan Manajemen Sosial Media: platform media sosial yang efektif dan efisien. Workshop ini dihadiri oleh berbagai macam komunitas, diantaranya; Muhammadiyah Tobacco Control Ceter (MTCC UMY), Komnas PT, Gerakan Perlindungan Perokok Pasif (GP3), Duta Cilik Anti Rokok, dan masih banyak komu itas lain, Jakarta (7/10).

Tujuan SFA mengadakannya workshop ini adalah untuk tetap mengobarkan semangat para komunitas agar tetap mengkampanyekan pengendalian tembakau, mengetahui isu-isu terkini tobacco control serta bagaimana menggunakan media sosial yang efektif dan efisien sebagai alat kampanye anti rokok.

Dalam seminar ini DR. Rohani Budi P..M.SI membahas mengenai iklan rokok di Indonesia. situasi terkini yang masih menjadi masalah yaitu iklan dan cukai. Awalnya iklan rokok dilarang keras untuk ditayangkan. Namun pada masa pemerintahan Gusdur, iklan rokok sudah mulai diperbolehkan. Saat ini iklan rokok hanya diberi batasan-batasan saja, seperti penayangan hanya diperbolehakn pukul 21.30 WIB – 05.00 WIB. Padahal iklan rokok seharusnya sama sekali tidak ditayangkan karena rokok mengandung zat adiktif dan bahan kimia lainnya. Sedangkan cukai, memiliki harga yang sangat rendah mengakibatkan harga rokok juga murah. Padahal setiap tahunnya sudah direncanakan untuk terus meningkatkan harga cukai, Namun faktanya harga cukai tetap jalan di tempat.

“Pengendalian tembakau adalah risalah nabi yang belum selesai. Tugas kitalah untuk menyelesaikannya” kutipan Amin Rais yang disampaikan oleh Budi dalam seminar tersebut.

Selain itu iklan baliho juga menjadi permasalahan tersendiri. Iklan baliho tergantung pada peratuan Pemda masing-masing. Jika ingin iklan Baliho dan membuat Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di daerah tersebut, setidaknya pemerintah daerah setempat harus pro dengan tobacco control.

“Puntung rokok yang mengandung filter adalah pencemaran yang sangat berbahaya karena selama 400 tahun barulah bisa hancur atau diserap oleh tanah” kata DR.Rohani Budi .P.M.SI.

Ratih Widya Putri pembicara dalam seminar yang diadakan oleh SFA membahas mengenai Manajemen Sosial Media: platform media sosial yang efektif dan efisien. “saat ini hampir semua orang membutuhkan media sosial dalam hidupnya, baik untuk komunikasi, sekedar eksis, bahkan untuk bisnis”, kata Putri.

Selain mendapatkan materi juga parktik bagaimana menggunakan media sosial yang efektif dan efisien,yaitu bagaimana membuat posting berita yang menarik, kapan harus diposting serta schedule untuk posting berita agar lebih efektif dan efisien.

Jadi tugas kita bersama untuk tetap menyerukan tobacco control. Dan menentang keras penayangan iklan rokok di media apapun.

( Dita Mayasari. Communication Internee)