smoking among the poor

Made Kerta Duana*), Ketut Suarjana*), Putu Suariyani*), Ketut Sutiari*)

Abstract

Recently, Indonesia was the third country with the largest number of smokers in the world after China and India. Data in 2010 showed that the prevalence of smokers was 34.7%. Bali Health Research Data Base 2007 showed that the population aged 10 years and over who smoke by 20.2%. National Socio-Economic Survey Data in 2005 showed that the prevalence of poor male smokers by 63%. Karangasem is one of regency in Bali which has high poverty rate, while there are many people also live below poverty line in the city of Denpasar. Cigarette consumption in poor families reported  22%, and greater than food expenditures. Therefore this study was conducted to examine smoking among the poor in Bali and the impacts on the economic and health.

Design of the study is cross sectional study (survey). The sample size are 289. Samples were selected using multistage random sampling method. Totally were selected 8 districts and 16 villages. Then from each village, samples selected by simple random. Data were collected using questionnaires and were analyzed quantitatively.

The results showed that the prevalence of poor families who smoke 68.5%, while in urban areas 75.9% and 61.8% in rural areas. The proportion of cigarette expenditure among poor families was 1.25%, which in urban areas 0.29% and 0.21% in rural areas. Prevalence of upper respiratory tract infection were predominant (25%). The non-communicable disease at 19.5%. Moreover the prevalence of stillbirth among poor families by 9.7%, of which 17.4% in rural and 5.1% urban. Prevalence of miscarriage among poor families by 56%, of which in urban areas and 54.3% in rural areas. Prevalence of Birth with low weight among poor families is 18.4%, of which 21.7% rural and 15.4% urban.

The prevalence of poor families in urban areas who smoke cigarette expenditure is greater than in the rural areas. The prevalence of infectious diseases more frequent than the non-communicable diseases. Prevalence of stillbirth and low birth weight in rural areas is greater than urban. However, the prevalence of miscarriage in urban areas greater than in rural areas.

Keywords: Smoking, Poor, Economic, Health 

Merokok Pada Masyarakat Miskin di Bali serta Dampaknya Secara Ekonomi dan Kesehatan*

Made Kerta Duana*), Ketut Suarjana*), Putu Suariyani*), Ketut Sutiari*)

Saat ini Indonesia menduduki peringkat ke-3 dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah Cina dan India. Data tahun 2010 menunjukkan prevalensi perokok saat ini sebesar 34,7%. Data Riset Kesehatan Dasar 2007 Provinsi Bali menunjukkan prevalensinya sebesar 20,2%. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional 2005 menunjukkan prevalensi perokok laki-laki miskin sebesar 63%. Salah satu kabupaten di Bali dengan angka kemiskinan yang cukup tinggi adalah Karangasem sedangkan untuk perkotaan banyak terdapat di Denpasar. Konsumsi rokok pada keluarga miskin menempati peringkat tertinggi (22%), lebih besar dari pengeluaran makanan pokok.. Penelitian ini dilakukan untuk meneliti perilaku merokok di kalangan masyarakat miskin di Bali dan dampaknya secara ekonomi dan kesehatan.

Penelitian menggunakan desain crossectional (survey). Besar sampel 289 orang KK miskin yang terdata di kabupaten Karangasem dan Kota Denpasar. Sampel dipilih dengan metode multistage random sampling, total didapat 8 Kecamatan dan 16 Desa. Dari masing-masing desa dipilih secara simple random. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner dan dianalisis secara kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan prevalensi KK miskin yang merokok yaitu 68,5% di perkotaan 75,9% dan di pedesaan 61,8%. Proporsi pengeluaran membeli rokok 1,25%, di perkotaan sebesar 0,29% dan di pedesaan 0,21%. Kejadian kesakitan sebagian besar adalah ISPA 25%. Sedangkan non-communicable disease 19,5%. Prevalensi kelahiran mati 9,7%, di pedesaan 17,4% dan  perkotaan 5,1%. Kejadian keguguran 56%, di perkotaan 54,3% dan  di pedesaan . Untuk bayi lahir BBLR prevalensinya18,4%, dimana di pedesaan 21,7% dan di perkotaan 15,4%.

Prevalensi KK miskin di perkotaan yang merokok lebih besar daripada di pedesaan. Pengeluarannya untuk membeli rokok juga lebih besar dari pedesaan. Secara umum kejadian penyakit menular lebih besar daripada penyakit tidak menular. Untuk prevalensi kelahiran mati dan bayi lahir dengan BBLR di pedesaan lebih tinggi dari perkotaan. Namun prevalensi keguguran di perkotaan lebih besar daripada  di pedesaan.

Kata Kunci: Merokok, Miskin, Ekonomi, Kesehatan

Merokok Pada Masyarakat Miskin di Bali serta Dampaknya Secara Ekonomi dan Kesehatan*

(Smoking Among The Poor And The Impact On Economy And Health In Bali*)

Made Kerta Duana*), Ketut Suarjana*), Putu Suariyani*), Ketut Sutiari*)

Pendahuluan

Derajat kesehatan sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat, salah satunya merokok. Dari data yang dikeluarkan oleh WHO pada tanggal 30 Januari 2004 menyebutkan bahwa angka kematian akibat merokok sudah mendekati 5 juta kasus pertahunnya (Depkes, 2010). Laporan Word Bank pada tahun 1970 sampai tahun 1990, konsumsi rokok di negara maju turun 10% sedangkan di negara berkembang meningkat 60%.

Indonesia menduduki peringkat ke-3 jumlah perokok terbesar di dunia setelah Cina dan India. Data tahun 2010 menunjukkan prevalensi perokok saat ini sebesar 34,7%, dari jumlah tersebut 76,6% merokok di dalam rumah bersama anggota keluarga yang lain (Depkes, 2010). Prevalensi merokok di tiap daerah di Indonesia cenderung merata, khusus untuk Provinsi Bali data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 Provinsi Bali menunjukkan prosentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok sebesar 20,2%.

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2005 menunjukkan prevalensi perokok laki-laki miskin sebesar 63% atau 2 dari 3 laki-laki dewasa miskin adalah perokok. Selain itu konsumsi rokok pada keluarga miskin menempati peringkat tertinggi (22%) lebih besar dari pengeluaran makanan pokok yaitu beras (19%). Tanpa disadari perilaku merokok pada masyarakat khususnya masyarakat miskin memiliki risiko yang lebih besar terhadap kesehatan dikarenakan terbatasnya kemampuan dalam mengakses pelayanan kesehatan yang lebih baik, selain itu perilaku merokok ini juga berdampak pada menurunnya tingkat perekonomian masyarakat miskin, karena tingginya pengeluaran untuk konsumsi rokok yang tanpa disadari telah mengurangi berbagai biaya untuk pemenuhan kebutuhan dasar yang lain seperti makanan bergizi. Salah satu kabupaten di Bali yang memiliki angka kemiskinan yang cukup tinggi adalah Kabupaten Karangasem sedangkan masyarakat miskin perkotaan terdapat banyak di Kota Denpasar. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui perilaku merokok di kalangan masyarakat miskin di Bali dan dampaknya secara ekonomi dan kesehatan.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan desain penelitian crossectional (survey). Dalam penelitian ini diteliti, prevalensi merokok pada masyarakat miskin di pedesaan dan perkotaan, serta dampaknya terhadap ekonomi  dan kesehatan.

Besar sampel pada penelitian ini adalah 289 orang KK miskin yang terdata di kabupaten Karangasem dan Kota Denpasar. Sampel dipilih dengan menggunakan metode multistage random sampling. Dari kabupaten dan kota tersebut dipilih masing-masing 4 kecamatan dengan masing-masing dua desa yang mewakili tiap kecamatan tersebut. Sehingga total didapat 8 Kecamatan dan 16 Desa, kemudian dari masing-masing desa sampel dipilih secara simple random. Data dikumpulkan dengan metode wawancara menggunakan kuesione. Hasil wawancara kemudian dianalisis secara deskriptif dengan bantuan perangkat statistik dan disajikan dalam bentuk tabel dan narasi

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Penduduk miskin di kabupaten Karangasem berpendidikan rendah atau tidak berpendidikan lebih banyak dari yang berpendidikan sehingga cenderung prevalensi perokoknya lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa prevalensi perokok dewasa pendidikan rendah lebih besar daripada perokok dengan pendidikan lebih tinggi

Sebanyak 198 KK (68.5%) memiliki anggota keluarga yang merokok. Keluarga miskin di Denpasar yang merokok lebih tinggi yaitu sebesar 75.9% sedangkan Karangasem sebesar 61.8%.  Hal ini didukung dengan mudahnya akses terhadap penjual rokok sebesar 58.4%. Tingginya perokok ini juga didukung dengan adanya kegiatan keagamaan yang selalu menyediakan rokok sebesar 61.4%%. Mereka rata-rata menghisap rokok 9 batang perhari, dimana perbedaan jumlah rokok yang dihisap setiap hari tidak begitu jauh berbeda antara kedua daerah dimana Denpasar sebesar 10 batang sedangkan Karangasem 8 batang.

Tiga dari empat keluarga di Indonesia memiliki pengeluaran untuk membeli rokok. Kelompok keluarga termiskin justru memiliki prevalensi merokok lebih tinggi daripada kelompok pendapatan terkaya. Proporsi pengeluaran bulanan untuk belanja rokok pada rumah tangga termiskin (12%) juga lebih tinggi dari rumah tangga terkaya (7%). Proporsi pengeluaran membeli rokok dengan pengeluaran total selama sebulan untuk kota Denpasar adalah rata-rata 0,29. Sedangkan proporsi pengeluaran rokok di Kabupaten Karangasem rata-rata 0,21. Pada keluarga perokok, pengeluaran untuk tembakau merupakan pengeluaran nomor dua setelah padi-padian yang besarnya rata-rata 10,4% atau 4 kali lipat lebih besar daripada pengeluaran untuk membeli daging,telur, dan susu (Data Susenas 2006).

Sebagian besar KK miskin yang merokok menderita ISPA (infeksi saluran pernapasan atas) 25%. Sedangkan untuk penyakit yang sifatnya tidak menular (non-communicable disease) seperti penyakit jantung, hipertensi, Tuberculosis, dan tumor prevalensinya sebesar 19,5%. Untuk penyakit lainnya variasinnya sangat beragam seperti maag, penyakit tradisional, demam, stroke, sakit mata, sakit gigi, tumor dan lainnya (65,5%).

Jumlah kelahiran mati pada KK miskin di pedesaan 17,4% dari total jumlah kelahiran yang terjadi pada KK yang merokok dan 9,8% dari total jumlah kelahiran pada KK miskin di pedesaan. Sedangkan keluarga miskin di perkotaan, jumlah kelahiran mati sebesar 5,1% dari total kelahiran dari KK miskin yang merokok dan 3,4% dari total jumlah kelahiran pada KK miskin di perkotaan. Jadi dalam penelitian ini menunjukkan jumlah kelahiran mati pada KK miskin yang merokok di pedesaan lebih tinggi dari perkotaan. Hal ini sesuai dengan hasil dari beberapa studi yang menunjukkan bahwa risiko kematian populasi balita dari keluarga perokok berkisar antara 14% di perkotaan dan 24% di pedesaan, atau 1 dari 5 kematian balita berhubungan dengan perilaku merokok orang tua.

KK miskin yang merokok di pedesaan terjadi keguguran sebesar 12,5% dari total kelahiran yang terjadi pada KK miskin yang merokok dan 7,3% dari total kelahiran pada KK miskin di pedesaan. Proporsi ini seimbang apabila dibandingkan dengan kejadian keguguran pada KK miskin di pedesaan yang tidak merokok yaitu 9,7% dari total kelahiran KK miskin di pedesaan. Pada KK miskin di perkotaan, hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya keguguran pada KK miskin yang merokok adalah sebesar 54,3% dari total kelahiran yang terjadi pada KK miskin yang merokok, dan 42,4% dari total kelahiran pada KK miskin di perkotaan. Angka ini jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan kejadian keguguran pada KK miskin yang tidak merokok yaitu hanya 3,9% dari total kelahiran pada KK miskin di perkotaan.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pada KK miskin di pedesaan terjadi BBLR sebesar 21,7% dari total kelahiran pada KK miskin yang merokok, dan 14,7% dari total kelahiran yang terjadi pada KK miskin di perkotaan. Untuk masyarakat perkotaan, kejadian BBLR sebesar 15,4% dari total kelahiran yang terjadi pada KK miskin yang merokok di perkotaan. Sedangkan dari total jumlah kelahiran yang terjadi pada KK miskin di perkotaan terdapat 12,5% bayi lahir dengan BBLR. Bila kita bandingkan secara sekilas antara kejadian BBLR pada KK miskin perokok di perkotaan dan pedesaan, maka KK miskin yang merokok di pedesaan lebih banyak mengalami BBLR daripada KK miskin yang merokok di perkotaan.