Ketua Muhammadiyah Tobacco Control Center – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (MTCC-UMY),  Winny Setyonurgoho PhD, menyampaikan tarif cukai tembakau yang diterapkan di Indonesia masih rendah. “Tarif cukai yang saat ini diterapkan oleh pemerintah masih lebih rendah dari anjuran WHO (World Health Organization), minimal 66 persen,” ungkapnya, Kamis (07/06/2018).

Berbicara dalam diskusi yang berlangsung di KJ Hotel Yogyakarta Jalan Parangtritis 120, dia menyampaikan  pada awal 2018 pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 146/PMK.010/2017 memutuskan menaikkan tarif cukai tembakau sebesar 10,04 persen. Kenaikan tarif tersebut diprediksi dapat kembali menurunkan produksi hasil tembakau sebesar minus 2,2 persen serta menurunkan prevalensi merokok hingga minus 0,4 persen. “Penurunan prevalensi ini diharapkan diikuti dengan penurunan perokok usia di bawah 15 tahun dan perempuan perokok,” kata dia.

Menurut dia, berdasarkan Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai, cukai rokok berperan penting membatasi konsumsi rokok. Dengan semakin tinggi cukai akan semakin tinggi pula harga produk tembakau dan diharapkan akan menurunkan  konsumsi masyarakat terhadap tembakau dan rokok. “Kenaikan tarif cukai yang tinggi juga menjadi instrumen pengendalian konsumsi rokok. Sebab cukai adalah sin tax alias pajak dosa,” tambahnya.

Dia mengakui, peredaran dan produksi rokok di Indonesia memunculkan pro dan kontra. Di satu sisi, para aktivis antirokok berupaya mendesak pemerintah untuk mengeluarkan regulasi tentang rokok yang melindungi masyarakat non-perokok. Dampak negatif asap rokok dapat berakibat fatal bagi kesehatan manusia dan lingkungan secara global. Di sisi lain, bisnis tembakau dan rokok adalah salah satu bisnis yang menguntungkan dan berpengaruh besar bagi negara karena memiliki multiplier effect dengan berbagai kalangan mulai dari petani tembakau dan cengkeh, para buruh pabrik hingga pedagang-pedagang asongan di sudut-sudut kota.

Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan,  mayoritas penyakit yang diderita pasien adalah penyakit degeneratif salah satu pemicunya adalah konsumsi rokok. Sesuai program FCTC (Framework Convention on Tobacco Protocol) yang digagas WHO, MTCC-UMY berpartisipasi aktif dalam program-program pengendalian tembakau dan KTR (Kawasan Tanpa Rokok) di Indonesia. MTCC-UMY juga melakukan advokasi kebijakan publik untuk urusan pengendalian dampak tembakau  dan sosialisasi pengendalian dampak tembakau ke masyarakat luas.

Dari diskusi tersebut disepakati perlunya dibuat tim khusus yang bergerak di bidang perekonomian dan perpajakan tembakau di bawah program MTCC sehingga sangat membantu di masa yang akan datang. Repost (sol-Koran Bernas). https://www.koranbernas.id/tarif-cukai-tembakau-masih-rendah/